AI · 13 Oktober 2026

Laporan Ashley: Mayoritas Lajang India Menolak Kecerdasan Buatan dalam Pencocokan Pasangan

worm's eye-view photography of ceiling
Joshua Sortino / Unsplash

Laporan Ashley tahun 2026 mengungkapkan bahwa sebagian besar orang lajang di India tidak bersedia menggunakan kecerdasan buatan untuk memilih pasangan, meskipun mereka mengakui manfaat teknologi tersebut dalam memperbaiki profil dan pesan. Studi ini menyoroti ketegangan antara penggunaan alat digital untuk memperlancar komunikasi dan penolakan terhadap intervensi mesin dalam keputusan pribadi yang intim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap intuisi manusia tetap menjadi prioritas utama dalam proses pencarian pasangan di kalangan penduduk perkotaan.

Data dari survei yang melibatkan 8.240 orang lajang di wilayah perkotaan India menunjukkan bahwa 64,2% responden lebih mempercayai pemahaman internal mereka sendiri dibandingkan saran yang diberikan oleh kecerdasan buatan. Angka ini menegaskan bahwa mayoritas pengguna aplikasi kencan masih menempatkan penilaian pribadi di atas rekomendasi algoritma. Selain itu, 46,6% orang lajang menyatakan pandangan tegas bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam konteks kencan seharusnya tidak pernah dilakukan sama sekali. Pandangan ini mengindikasikan adanya resistensi signifikan terhadap peran teknologi dalam menentukan kecocokan romantis.

Meskipun ada penolakan terhadap peran kecerdasan buatan sebagai pencocok pasangan, sebagian pengguna tetap memanfaatkan teknologi untuk keperluan lain. Sebanyak 24,3% responden mengaku menggunakan kecerdasan buatan dalam aktivitas kencan mereka, namun mereka merasa tidak nyaman jika pasangan potensial mereka juga menggunakan teknologi serupa. Ketidaknyamanan ini muncul karena penggunaan teknologi oleh pihak lawan dianggap dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dalam hubungan. Pengguna cenderung menerima bantuan teknologi untuk meningkatkan presentasi diri, tetapi menolak ketika teknologi tersebut digunakan untuk memanipulasi interaksi atau pilihan pasangan.

Isu integritas visual juga menjadi perhatian utama dalam laporan tersebut. Sebanyak 40,2% responden menganggap penggunaan kecerdasan buatan untuk memperbaiki foto profil sebagai bentuk penipuan. Bagi kelompok ini, modifikasi gambar yang mengubah persepsi tentang penampilan asli seseorang merupakan pelanggaran kepercayaan yang serius. Akibatnya, pengguna yang menemukan profil dengan foto yang ditingkatkan secara digital cenderung langsung membatalkan kecocokan atau mengabaikan profil tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa keaslian identitas fisik masih menjadi faktor krusial dalam penilaian awal.

Perbedaan pandangan juga terlihat jelas berdasarkan gender. Sebanyak 60,5% perempuan merasa bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam kencan tidak mencerminkan kejujuran terhadap diri sendiri. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata umum, menunjukkan sensitivitas yang lebih besar terhadap otentisitas interaksi. Lebih lanjut, 51,9% perempuan memilih untuk mengabaikan sepenuhnya pesan pembuka yang ditulis dengan bantuan kecerdasan buatan. Respons ini mengindikasikan bahwa bagi banyak perempuan, nuansa alami dan suara pribadi dalam komunikasi lebih penting daripada kesempurnaan tata bahasa atau pilihan kata yang dihasilkan oleh mesin.

Meskipun ada keraguan terhadap peran kecerdasan buatan dalam memilih pasangan, teknologi tetap digunakan untuk tugas-tugas administratif dalam aplikasi kencan. Laporan mencatat bahwa pengguna memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menulis bio profil dan menyusun prompt dalam aplikasi. Selain itu, 51,2% orang memeriksa pesan mereka melalui kecerdasan buatan sebelum dikirimkan untuk memperbaiki bahasa dan cara penyampaian. Pola penggunaan ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan diterima sebagai alat bantu komunikasi, tetapi tidak diterima sebagai pengambil keputusan dalam hal hubungan interpersonal.